January 22, 2012

Galau. Rindu Ukhuwah. Bukan Puisi.

Aku tak ingin ketidakbertanggungjawabanku menjadi sesuatu yang semakin cela,
seperti dusata, yang sekali dilakukan kian menambah dusta.
Aku tak ingin lagi bincangkan bedanya kita, tidak bersamanya kita.
Aku tak ingin lagi bincangkan apa-apa. Sebab ujarku tak lebih dari menjadi sebuah luka, luka yang tak kunjung terobati pada jiwamu yang juga mulai meradang.
Biar, jika memang kita tak harus ada di jalan yang sama,
Tapi semoga kelak kita bertemu atas satu tujuan yang sama,
di sana,
di haribaan yang penuh keberkahan-Nya.

Setidaknya segala kenangan manis kita,
saat kalian memapah langkahku di jalan ini,
saat kalian kenalkan aku dengan teman-teman yang akan berjalan di sini,
saat kita menantang badai lautan dan hujan di sebuah pulau yang jauh dari jangkauan kaki,
saat kita bermimpi,
saat kita saling menguatkan,
dan segala saat dimana kita pernah bersama,
akan senantiasa lekat di hati ini, dalam lubuk pikir ini.
Meskipun kalian pulalah yang membuatku galau, membuatku kebingungan kemana lagi harus melangkah, membuatku benar-benar sadar bahwa aku butuh saudara, butuh kalian ada.

Ketika aku terjaga dari tidurku yang teramat panjang, dan aku sadar tak ada lagi kalian bersamaku, aku menangis. Aku takut menghadapi badai dan hujan yang akan turun lagi. Aku bahkan takut sekedar menatap matahari. Dan aku takut untuk membuang kegalauan ini. Aku bahkan takut untuk memilih jalan yang baik di kota ini.

Berlebihan mungkin.
Tapi tolong, ukhti.
Jangan salahkan aku atas galau dan takutku.
Jangan salahkan aku atas kebodohanku.
Kalian bahkan tau, saat itu, aku bukanlah apa-apa.
Aku bahkan ibarat kapas di antara emas.
Hingga aku mampu menyerupai emas, dan belum emas, butuh kalian untuk menjadi emas, kalian justru meninggalkanku.
Yang tersisa kini hanyalah serupa, bukan tidak atau iya dari keadaan yang seharusnya.

0 comments:

Post a Comment

Powered By Blogger

How Many?

© Copyright 2011 New Pages of Life ^_^ Template design by sarju
Endang Sriwahyuni. Powered by Blogger.bloger